Sabtu, 11 April 2009

Sufisme Syekh Siti Jenar

۞.Sufisme Syekh Siti Jenar, Kesamaan Tuntas Syekh Siti Jenar dg Allah.
April 5th, 2009 | Filed under English entries.
“…Marilah kita bicara dengan terus terang. Aku ini Allah, akulah yang sebenarnya disebut Prabu Satmata, tidak ada yang lain yang bernama Allah…
Aku menyampaikan ilmu tertinggi yang membahas ketunggalan.
Ini bukan badan, selamanya bukan, karena badan ini tidak ada..
Yang kita bicarakan adalah ilmu sejati. Dan untuk semua orang kita membuka tabir (artinya membuka rahasia yang paling tersembunyi)”
(Serat Siti Jenar Asmarandana, hlm. 15, bait 20-22)
“Tidak usah banyak tingkah, saya inilah Tuhan.
Ya, betul-betul saya ini adalah Tuhan yang sebenarnya bergelar Prabu Satmata.
Ketahuilah bahwa tidak ada bangsa Tuhan yang lain selain saya…
Saya ini mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan kemanunggalan.
Sedangkan bangkai itu selamanya akan tidak ada.
Adapun yang dibicarakan sekarang adalah ilmu sejati yang dapat membuka tabir kehidupan.
Dan lagi, semuanya sama, sudah tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan lagi…
Jika ada perbedaan apapun itu bentuknya, saya akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu tersebut.”
(Boekoe Siti Djenar, Tan Khoen Swie, hlm. 18-20).
“Jika Anda menanyakan dimana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit.
Allah berada dalam dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh.
Tetapi hanya orang yang terpilih yang bisa melihatnya, yaitu orang yang suci..”
(Suluk Wali Sanga, R. Tanaja, hlm. 42-46)
Dalam sidang para wali yang dipimpin Sunan Giri bertempat di Giri Kedaton, penjelasan Syekh Siti Jenar bahwa dirinya bukan badan adalah menanggapi pernyataan Maulana Maghribi yang bertanya, “Tetapi yang kau tunjukkan itu hanya badan?”

Syekh Siti Jenar menyampaikan ajaran “ingsun” yang dikemukakan secara radikal.
Dia mengajarkan kesamaan tuntas antara sang pembicara dengan Allah.
Ini sebagai efek dari berbagai pengalaman spiritualnya yang tinggi yang pernah dialaminya.
Manunggaling Kawula-Gusti juga meniscayakan adanya manunggalnya kalam (pembicaraan, sabda, firman) antara sang pembicara dnegan Allah.
Adapun gelar Prabu Satmata memilki makna sama dengan “Hyang Manon” atau “Yang Maha Tahu”.
Gelar tersebut juga diberikan kepada Walisanga kepada Sunan Giri.
Nampaknya Syekh Siti Jenar memiliki pendirian tegas, ilmu spiritual harus diajarkan kepada semua orang. Justru dengan membuka tabir tersembunyi, orang akan mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya sendiri…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar